Minat Bertanam Jagung Tinggi

BANDUNG,(PR).- Minat petani di Jawa Barat membudidayakan tanaman jagung tergolong masih tinggi termasuk untuk mempersiapkan menjelang kemarau 2018 ini sejumlah wilayah di Jawa Barat mulai banyak ditanam jagung oleh petani setempat .

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Jawa Barat Hendy Jatnika di Bandung , Kamis (19/04/2018) mengatakan, minat bertanam jagung oleh para petani di Jawa Barat memang masih tinggi. Sampai kini , pengusahaan komoditas jagung bukan sebagai pesaing tanaman padi karena di budidayakan pada lahan kering.

Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Barat pun sudah melakukan gerakan tanam jagung di Tasikmalaya. Waktunya dinilai pas karena tanaman jagung merupakan komoditas yang umumnya ditanam menjelang musim kemarau.

“Pengusahaan komoditas jagung sejauh ini belum terpengaruh alih lahan fungsi. Bantuan pemerintah tahun ini untuk benih jagung dan pupuk untuk 60.000 hektare dan dapat bertambah jika minat para petani lebih tinggi,” ujar Hendy Jatnika.

Ia pun mengimbau agar kalangan petani menjelang kemarau setelah panen Juni-Juli 2018 mendatang sawah dapat digilir. Komoditas yang disarankan adalah jagung atau palawija lain.

Diketahui pula, pengusahaan komoditas jagung banyak diusahakan pada lahan tadah hujan , misalnya di Garut, Sumedang,Tasikmalaya, Cirebon,dll. Pengusahaan jagung maupun palawija , diketahui merupakan kebiasaan petani untuk keamanan hasil usahanya, terhindar dari kekeringan pada musim kemarau yang di alami tanaman padi.

Wakil Ketua Asosiasi Pedagang Komoditas Agro Jawa Barat Muchlis Anwar mengatakan, pasar lokal jagung tahun 2018 tetap prospektif dan menggiurkan.Soalnya, kebutuhan jagung pipilan kering masih dibutuhkan oleh berbagai pabrik pakan dan peternak rakyat , baik ayam petelur maupun ayam pedaging.

“Asalkan , jagungnya memenuhi standar yang diminta oleh pembeli.Aspeknya , aspergillus kadar air, kehampaan,dan butiran biji,karena akan digiling menjadi butiran yang akan dicampur dengan komponen pakan lainnya,” ujarnya.

Menurut dia, kebutuhan jagung baik lokal maupun impor, di kisaran 9 juta ton , Jagung lokal baru menyuplai kebutuhan kisaran 6-7 juta ton .

Konversi lahan

Sementara itu, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyoroti permasalahan konversi kepemilikan lahan pertanian di berbagai daerah . Juga persoalan pengelolaan sektor pangan yang dinilai penting untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional.

“Dalam sepuluh tahun terakhir yang terjadi adalah masifnya konversi kepemilikan lahan pertanian,terutama di Pulau Jawa sebagai sentra produksi pangan nasional,”kata ketua bidang ekonomi,keuangan,industri,teknologi,dan lingkungan hidup DPP PKS Memed Sosiawan dalam keterangan tertulis di teria antara,di jakarta,Selasa (17/4/2018).

Memed memaparkan,dari tahun 2003 sampai 2013,terjadi konversi lahan pertanian seluas 508.287 hektare,termasuk di Jawa Barat 36.389 ha,Jawa Tengah 202.222 ha,Jawa Timur 167.864 ha,Banten 71.519 ha, dan di yogyakarta 30.302 ha,ia berpendapat,masifnya konversi kepemilihan lahan pertanian meningkatkan jumlah petani gurem secara signifikan,dan berpotensi menurunkan produksi komoditas seperti beras,jagung dan kedelai.

“Dengan besarnya koversi kepemilihan lahan yang menurunkan produksiberas,jagung,kedelai,indonesia menjadi semakin bergantung pada impor pangan,” paparnya.

Menurut dia bertambahnya populasi jumlah penduduk indonesia yang tidak diikuti dengan bertambahnya produksi pangan karena terjadinya konversi lahan pertanian besar-besaran,ternyata diikuti pula oleh tren perubahan pola konsumsi pangan masyarakat indonesia.

Memed mengingatkan,telah terjadi penurunan konsumsi beras sebesar 200.000 ton hingga 300.000 ton setiap tahunnya, di sisi lain terjadi peningkatan konsumsi gandum sekitar 150.000 ton setiap tahunnya. Proporsi gandum sebagai pangan pokok juga meningkat dari 21 persen (2015) menjadi 25,4 persen (2017).

“perubahan pola konsumsi pangan dari beras kepada gandum sehingga volume impor gandum meningkat menjadi 11,64 juta ton (2017). Ini menjadikan indonesia sebagai negara pengimpor gandum gandum terbesar di dunia , di atas volume impor gandum yang di lakukan oleh mesir dan brasil,”paparnya.

Padahal, Ketua DPP PKS itu mengingatkan,gandum adalah produk pertanian di wilayah subtropis, sedangkan indonesia merupakan negara tropis yang tidak bisa melakukan pertanian gandum.

Ia juga menyoroti bonus demografi yang semakin besar dan puncaknya diperkirakan terjadi pada tahun 2028 sampai 2031, di mana akan terjadi peningkatan jumlah angkatan kerja usia produktif yang juga akan di sertai dengan meningkatnya kebutuhan ketersediaan pangan . (Kodar solihat)***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *